
Migrasi cPanel ke aaPanel adalah proses memindahkan website dari server yang menggunakan cPanel ke server baru yang menggunakan aaPanel. Proses ini dapat dilakukan secara manual dengan cara mengunduh file website, mengekspor database dari server lama, kemudian mengimpor seluruh data tersebut ke server baru. Cara ini cocok bagi pemilik website yang ingin mengelola perpindahan hosting secara mandiri tanpa bergantung pada fitur migrasi otomatis.
Bagi orang yang belum terbiasa mengelola server, migrasi website mungkin terdengar rumit. Ada banyak istilah teknis seperti database, DNS, document root, dan file konfigurasi yang perlu dipahami. Namun, jika dilakukan secara bertahap, proses ini sebenarnya bisa dipelajari oleh pemula.
Hal terpenting dalam migrasi bukan hanya memindahkan file, melainkan memastikan seluruh komponen website dapat berjalan kembali di server tujuan. File gambar, tema, plugin, database, akun email, dan konfigurasi domain perlu diperiksa agar tidak ada data penting yang tertinggal.
Artikel ini membahas cara migrasi cPanel ke aaPanel secara manual melalui proses export dan import, mulai dari persiapan hingga pemeriksaan website setelah perpindahan selesai.
1. Mengenal Perbedaan cPanel dan aaPanel
Sebelum melakukan migrasi, ada baiknya memahami perbedaan kedua panel hosting tersebut.
cPanel merupakan panel kontrol hosting yang banyak digunakan pada layanan shared hosting. Melalui cPanel, pengguna dapat mengelola file website, membuat database, mengatur akun email, mengelola domain, dan melakukan pencadangan data melalui antarmuka berbasis web.
Sementara itu, aaPanel merupakan panel kontrol server yang dapat digunakan untuk mengelola website, database, layanan web server, sertifikat SSL, dan berbagai konfigurasi server. aaPanel umumnya digunakan pada VPS atau server sendiri sehingga pengguna memiliki kendali lebih besar terhadap konfigurasi sistem.
Perbedaan pengelolaan ini membuat proses migrasi tidak selalu bisa dilakukan dengan menyalin seluruh folder dari cPanel ke aaPanel begitu saja. Beberapa pengaturan perlu dibuat ulang di server tujuan.
Sebagai contoh, pada cPanel sebuah website mungkin berada di folder public_html. Setelah dipindahkan ke aaPanel, website bisa menggunakan direktori seperti /www/wwwroot/domainanda.com, bergantung pada konfigurasi yang dibuat.
Begitu juga dengan database. Database dari server lama harus diimpor ke server baru, lalu koneksi database pada konfigurasi website perlu disesuaikan jika nama database, nama pengguna, atau kata sandinya berubah.
2. Apa Saja yang Perlu Dipersiapkan?
Persiapan merupakan bagian penting sebelum migrasi dimulai. Dengan melakukan pemeriksaan sejak awal, risiko website mengalami error setelah dipindahkan dapat dikurangi.
Berikut beberapa hal yang perlu disiapkan.
A. Akses ke cPanel lama
Pastikan Anda masih bisa masuk ke cPanel dari hosting lama. Akses ini diperlukan untuk mengunduh file website, mengekspor database, dan memeriksa konfigurasi yang digunakan.
Jika website menggunakan WordPress, periksa juga apakah Anda masih bisa membuka halaman administratornya.
B. Akses ke aaPanel
Siapkan server tujuan yang sudah terpasang aaPanel. Pastikan Anda mengetahui alamat IP server, akun administrator panel, serta memiliki akses untuk membuat website dan database.
Sebelum memindahkan data, periksa juga kapasitas penyimpanan server. Ruang kosong harus cukup untuk menampung file website, database, dan file sementara selama proses migrasi.
C. Informasi domain
Catat nama domain yang akan dipindahkan. Jika domain tetap sama, Anda tidak harus membeli atau mendaftarkan domain baru.
Namun, nantinya Anda perlu mengarahkan DNS domain ke alamat IP server baru setelah website berhasil diuji.
D. Informasi database
Jika website menggunakan database MySQL atau MariaDB, catat nama database lama, nama pengguna database, dan konfigurasi koneksi yang digunakan oleh aplikasi.
Pada WordPress, informasi tersebut biasanya tersimpan dalam file wp-config.php.
E. Backup lengkap
Sebelum melakukan perubahan apa pun, buat salinan seluruh file website dan database. Simpan backup tersebut di komputer lokal atau lokasi penyimpanan lain yang aman.
Jangan menghapus website lama hanya karena file sudah berhasil dipindahkan. Server lama sebaiknya tetap aktif sampai website di server baru benar-benar berfungsi.
3. Cara Backup File Website dari cPanel
Langkah pertama adalah mengunduh seluruh file website dari server lama.
Masuk ke cPanel, kemudian buka menu File Manager. Cari folder tempat website disimpan. Pada banyak instalasi cPanel, folder utama website berada di public_html, tetapi lokasi ini bisa berbeda jika domain menggunakan document root tersendiri.
Jika website utama berada di public_html, ikuti langkah berikut.
- Buka folder
public_html. - Periksa apakah seluruh file website sudah terlihat.
- Pilih file dan folder yang diperlukan.
- Kompres file menjadi arsip ZIP jika fitur kompresi tersedia.
- Unduh arsip ZIP tersebut ke komputer.
Jika file website berukuran besar, proses kompresi dapat membutuhkan waktu. Pastikan ruang penyimpanan hosting mencukupi dan jangan menutup proses sebelum selesai.
Pada website WordPress, file penting biasanya meliputi:
- Folder
wp-admin. - Folder
wp-includes. - Folder
wp-content. - File
wp-config.php. - File inti WordPress lainnya.
- File tambahan yang dibuat oleh website atau aplikasi.
Folder wp-content sangat penting karena biasanya berisi tema, plugin, dan file media seperti gambar yang diunggah melalui WordPress.
Jangan hanya mengunduh folder wp-content jika Anda ingin melakukan pemindahan website WordPress secara lengkap. File inti dan konfigurasi juga diperlukan, kecuali Anda memang merencanakan instalasi ulang WordPress dengan metode tersendiri.
Setelah file selesai diunduh, periksa ukuran arsip ZIP dan pastikan file dapat dibuka di komputer. Langkah ini membantu memastikan arsip tidak rusak sebelum diunggah ke server baru.
4. Cara Export Database dari cPanel
Setelah file website diamankan, langkah berikutnya adalah mengekspor database.
Database menyimpan berbagai informasi yang digunakan website. Pada WordPress, misalnya, database berisi artikel, halaman, akun pengguna, pengaturan, kategori, komentar, dan data lain yang digunakan oleh sistem.
Jika file website berhasil dipindahkan tetapi database tidak ikut dipindahkan, website dapat mengalami error atau kehilangan konten.
Untuk melakukan export database, ikuti langkah berikut.
- Masuk ke cPanel.
- Buka menu phpMyAdmin.
- Pilih database yang digunakan oleh website pada panel sebelah kiri.
- Klik tab Export.
- Pilih metode Quick untuk proses ekspor sederhana, atau Custom jika membutuhkan pengaturan tambahan.
- Pilih format SQL.
- Klik tombol Export atau Go, sesuai tampilan phpMyAdmin.
- Simpan file hasil ekspor ke komputer.
File database biasanya memiliki ekstensi .sql. Contohnya, database_website.sql.
Sebelum mengekspor, pastikan database yang dipilih benar. Jika satu akun hosting memiliki beberapa website, setiap website bisa menggunakan database yang berbeda.
Untuk mengetahui database WordPress yang digunakan, buka file wp-config.php dan periksa nilai pada pengaturan DB_NAME. Nama database pada konfigurasi tersebut harus sesuai dengan database yang diekspor.
Jika database berukuran besar, proses ekspor mungkin membutuhkan waktu lebih lama. Apabila phpMyAdmin mengalami batas waktu atau gagal mengekspor data, Anda dapat meminta bantuan penyedia hosting untuk mendapatkan metode backup yang sesuai.
Simpan file SQL dengan baik dan jangan mengedit isinya jika tidak memahami struktur database.
5. Membuat Website Baru di aaPanel
Setelah file website dan database berhasil diamankan, lanjutkan dengan menyiapkan website di aaPanel.
Masuk ke aaPanel menggunakan alamat panel dan akun yang telah disiapkan. Selanjutnya, buka menu Website dan pilih opsi untuk menambahkan website baru.
Masukkan nama domain yang akan dipindahkan. Jika aaPanel meminta pilihan layanan web server atau versi PHP, sesuaikan dengan kebutuhan aplikasi yang digunakan.
Misalnya, jika website lama menggunakan WordPress dengan PHP 8.2, versi tersebut dapat dijadikan titik awal selama tema dan plugin yang digunakan mendukungnya. Versi PHP yang lebih baru tidak selalu cocok dengan seluruh aplikasi lama.
Buat website dengan pengaturan yang sesuai, lalu periksa lokasi direktori website yang dihasilkan aaPanel. Contohnya:
/www/wwwroot/domainanda.com
Lokasi tersebut akan menjadi tempat menyimpan file website yang dipindahkan.
Jika aaPanel meminta pembuatan database sekaligus, Anda dapat memilih untuk membuat database pada tahap ini. Jika tidak, database bisa dibuat secara terpisah melalui menu Database.
Pastikan domain yang dimasukkan benar. Jika website menggunakan beberapa subdomain, masing-masing subdomain perlu disiapkan sesuai struktur website lama.
6. Membuat Database Baru di aaPanel
Sebelum mengimpor file SQL, buat database kosong di server tujuan.
Caranya, buka menu Database pada aaPanel dan pilih opsi untuk menambahkan database baru.
Masukkan informasi berikut sesuai kolom yang tersedia:
- Nama database.
- Nama pengguna database.
- Kata sandi database.
- Jenis database, jika tersedia pilihan MySQL atau MariaDB.
Gunakan kata sandi yang kuat dan simpan informasi tersebut dengan aman.
Nama database dan pengguna yang dibuat di aaPanel tidak harus sama dengan nama database di cPanel. Namun, jika namanya berbeda, konfigurasi website harus diperbarui agar mengarah ke database yang baru.
Setelah database berhasil dibuat, catat nama database, nama pengguna, dan kata sandinya. Informasi ini akan digunakan saat melakukan import serta mengatur koneksi aplikasi.
Pastikan layanan database di server baru berjalan normal sebelum melanjutkan. Jika database belum aktif, proses import atau koneksi website dapat gagal.
7. Cara Import Database ke aaPanel
Setelah database baru dibuat, pindahkan data dari file SQL hasil ekspor cPanel.
Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan, bergantung pada versi aaPanel dan konfigurasi server.
Metode pertama: Menggunakan phpMyAdmin
Jika phpMyAdmin sudah tersedia dan dikonfigurasi di server baru, Anda dapat menggunakannya untuk mengimpor database.
Langkah-langkahnya sebagai berikut.
- Buka phpMyAdmin melalui akses yang disediakan server.
- Pilih database baru yang sudah dibuat.
- Klik tab Import.
- Pilih file
.sqldari komputer. - Pastikan format file adalah SQL.
- Jalankan proses import.
- Tunggu sampai muncul pemberitahuan bahwa proses berhasil.
Jangan memilih database yang salah karena proses import akan memasukkan tabel dan data ke database yang dipilih.
Metode kedua: Menggunakan fitur database aaPanel
Pada beberapa versi atau konfigurasi aaPanel, pengelolaan database menyediakan fitur untuk mengakses atau mengimpor file SQL.
Jika fitur tersebut tersedia, pilih database tujuan dan gunakan menu import sesuai petunjuk pada panel.
Apabila tidak tersedia, gunakan phpMyAdmin jika sudah dikonfigurasi atau metode command line yang sesuai dengan akses server Anda.
Metode ketiga: Menggunakan terminal server
Bagi pengguna yang memiliki akses SSH dan memahami dasar penggunaan terminal, database juga dapat diimpor menggunakan perintah MySQL atau MariaDB.
Sebagai contoh, setelah file SQL berada di server, perintah berikut dapat digunakan dengan mengganti nilai sesuai konfigurasi sebenarnya:
mysql -u NAMA_USER -p NAMA_DATABASE < backup.sql
Perintah tersebut meminta kata sandi pengguna database, kemudian membaca file SQL dan memasukkan isinya ke database tujuan.
Jalankan perintah dari direktori tempat file backup.sql berada, atau gunakan lokasi file secara lengkap.
Metode terminal berguna untuk database berukuran besar, tetapi pastikan nama database, pengguna, hak akses, dan lokasi file sudah benar sebelum menjalankan perintah.
Setelah import selesai, periksa apakah tabel-tabel database sudah muncul. Untuk WordPress, tabel biasanya menggunakan awalan seperti wp_, meskipun awalan tersebut bisa berbeda sesuai konfigurasi awal.
8. Memindahkan File Website ke Direktori aaPanel
Setelah database berhasil diimpor, pindahkan file website dari komputer ke server baru.
Buka menu Files pada aaPanel atau gunakan SFTP maupun metode transfer file lain yang tersedia.
Masuk ke direktori website yang sebelumnya dibuat, misalnya:
/www/wwwroot/domainanda.com
Unggah arsip ZIP hasil backup dari cPanel ke direktori tersebut.
Setelah proses unggah selesai, ekstrak arsip ZIP. Pastikan struktur folder tidak menjadi bertingkat secara tidak sengaja.
Sebagai contoh, struktur yang benar untuk instalasi WordPress pada document root adalah:
/www/wwwroot/domainanda.com/wp-admin/www/wwwroot/domainanda.com/wp-content/www/wwwroot/domainanda.com/wp-includes/www/wwwroot/domainanda.com/wp-config.php
Jika setelah ekstraksi susunannya menjadi /www/wwwroot/domainanda.com/public_html/wp-admin, padahal document root website mengarah langsung ke /www/wwwroot/domainanda.com, WordPress mungkin tidak dapat ditemukan.
Dalam kondisi tersebut, pindahkan isi folder public_html ke direktori document root yang benar, bukan memindahkan folder secara sembarangan.
Setelah itu, periksa kepemilikan dan izin file. Pastikan proses web server dapat membaca file website dan menulis pada direktori yang memang memerlukan akses tulis, seperti direktori unggahan WordPress.
Jangan memberikan izin 777 kepada seluruh file dan folder hanya untuk mengatasi masalah akses. Pengaturan izin yang terlalu terbuka dapat menimbulkan risiko keamanan.
9. Menyesuaikan Konfigurasi Database Website
Setelah file dan database tersedia di server baru, periksa konfigurasi koneksi database.
Pada WordPress, buka file wp-config.php di direktori utama website. Temukan pengaturan berikut:
DB_NAMEDB_USERDB_PASSWORDDB_HOST
Sesuaikan nilainya dengan informasi database yang dibuat di aaPanel.
Contohnya, jika nama database baru adalah website_baru, nama pengguna database adalah user_baru, dan kata sandinya telah ditetapkan, konfigurasi harus menggunakan informasi tersebut.
Nilai DB_HOST perlu disesuaikan dengan konfigurasi server. Pada banyak instalasi, nilainya menggunakan localhost, tetapi beberapa server menggunakan alamat atau konfigurasi koneksi lain.
Simpan perubahan setelah memastikan setiap nilai benar.
Jika website masih menampilkan pesan seperti Error establishing a database connection, jangan langsung mengulang proses migrasi. Periksa nama database, kata sandi, pengguna, hak akses database, dan status layanan MySQL atau MariaDB terlebih dahulu.
Untuk aplikasi selain WordPress, file konfigurasi database bisa memiliki nama dan lokasi berbeda. Laravel, misalnya, umumnya menggunakan file .env untuk menyimpan konfigurasi koneksi database.
10. Menguji Website Sebelum Mengubah DNS
Salah satu kesalahan yang sering terjadi ketika migrasi adalah langsung mengubah DNS sebelum website baru diuji.
Sebaiknya, lakukan pengujian terlebih dahulu menggunakan metode yang memungkinkan komputer mengakses IP server baru tanpa mengubah DNS publik. Salah satu caranya adalah mengatur file hosts pada komputer untuk sementara.
File tersebut dapat memetakan domain ke alamat IP tertentu khusus pada komputer yang menggunakannya. Dengan demikian, Anda dapat memeriksa website pada server baru sebelum pengunjung umum diarahkan ke sana.
Periksa beberapa bagian penting berikut:
- Apakah halaman utama dapat dibuka?
- Apakah artikel dan halaman tampil dengan benar?
- Apakah gambar dan file media dapat dimuat?
- Apakah menu, tautan, dan formulir berfungsi?
- Apakah halaman login administrator dapat diakses?
- Apakah website dapat membaca dan menyimpan data ke database?
- Apakah terdapat pesan error pada log aplikasi atau web server?
Untuk WordPress, uji juga halaman artikel, kategori, pencarian, dan halaman yang menggunakan plugin khusus.
Jika website menggunakan permalink, periksa pengaturan permalink di dashboard WordPress. Pada kondisi tertentu, aturan penulisan ulang URL atau konfigurasi web server di aaPanel perlu disesuaikan agar halaman selain beranda tidak menghasilkan error 404.
Pastikan juga konfigurasi PHP dan ekstensi yang dibutuhkan aplikasi sudah tersedia. Website lama mungkin menggunakan ekstensi PHP tertentu yang belum terpasang pada server baru.
11. Mengarahkan DNS Domain ke Server Baru
Jika website sudah lolos pengujian, langkah berikutnya adalah mengarahkan domain ke server baru.
Masuk ke pengelola DNS tempat domain dikelola. Lokasinya bisa berada di penyedia domain atau layanan DNS pihak ketiga, bergantung pada konfigurasi domain Anda.
Periksa record DNS yang digunakan.
Record A biasanya digunakan untuk mengarahkan nama domain ke alamat IPv4 server. Jika website menggunakan subdomain www, periksa juga apakah subdomain tersebut memiliki record A atau CNAME yang sesuai.
Jika domain menggunakan IPv6, periksa record AAAA dan pastikan alamatnya memang mengarah ke server yang benar. Jangan membiarkan record lama yang tidak sesuai jika dapat menyebabkan sebagian pengunjung menuju server sebelumnya.
Ubah record yang diperlukan agar mengarah ke IP server aaPanel. Setelah perubahan disimpan, tunggu proses propagasi DNS.
Waktu propagasi dapat berbeda-beda karena dipengaruhi oleh TTL, cache DNS, dan konfigurasi resolver yang digunakan. Oleh karena itu, tidak semua pengunjung akan langsung melihat server baru pada waktu yang sama.
Selama proses tersebut berlangsung, pertahankan server lama tetap aktif. Langkah ini membantu mengurangi risiko gangguan jika masih ada pengunjung yang diarahkan ke server lama.
12. Memasang SSL dan Memeriksa HTTPS
Setelah domain mengarah ke server baru, pastikan website menggunakan sertifikat SSL yang valid.
Jika sebelumnya website menggunakan HTTPS, jangan menganggap sertifikat SSL otomatis ikut berpindah hanya karena file website telah disalin.
Sertifikat dan konfigurasi SSL perlu diperiksa pada server tujuan. Anda dapat mengatur sertifikat melalui menu SSL pada aaPanel sesuai dukungan layanan yang digunakan.
Jika menggunakan sertifikat Let’s Encrypt, pastikan domain sudah mengarah dengan benar dan persyaratan validasi sertifikat terpenuhi.
Setelah sertifikat terpasang, buka website melalui HTTPS. Periksa apakah browser menampilkan peringatan sertifikat dan apakah ada gambar atau sumber daya yang masih menggunakan HTTP.
Pada WordPress, URL website dan konfigurasi plugin juga dapat memengaruhi pengalihan HTTPS. Hindari melakukan perubahan berulang kali tanpa memeriksa penyebab masalah karena konfigurasi yang tidak konsisten dapat menyebabkan pengalihan tanpa akhir atau redirect loop.
13. Bagaimana dengan Email, Cron Job, dan Subdomain?
Migrasi manual tidak selalu memindahkan seluruh layanan hosting secara otomatis. Ada beberapa komponen yang perlu diperiksa secara terpisah.
Jika email menggunakan layanan email yang disediakan cPanel, akun email, pesan, filter, dan konfigurasi pengiriman tidak otomatis ikut berpindah bersama file website dan database.
Sebelum migrasi, identifikasi apakah email menggunakan server lama atau layanan email eksternal. Jika ingin memindahkan email ke server lain, lakukan proses migrasi email tersendiri dan sesuaikan record MX serta record pendukung seperti SPF, DKIM, dan DMARC.
Jangan mengubah record MX jika email masih harus diterima oleh server lama atau layanan email yang sedang digunakan.
Cron job
Cron job adalah tugas terjadwal yang berjalan secara otomatis pada waktu tertentu. Website mungkin menggunakannya untuk mengirim laporan, memproses antrean, melakukan backup, atau menjalankan perintah aplikasi.
Catat cron job dari cPanel dan buat ulang di server baru jika masih diperlukan. Pastikan path file, interpreter, dan izin eksekusi sesuai dengan lingkungan aaPanel.
Subdomain
Jika hosting lama memiliki subdomain seperti blog.domainanda.com atau app.domainanda.com, subdomain tersebut perlu dibuat dan diuji secara terpisah.
Pastikan direktori website, database, konfigurasi SSL, dan record DNS untuk setiap subdomain sudah sesuai. Jangan menganggap seluruh subdomain akan otomatis tersedia setelah domain utama ditambahkan di aaPanel.
14. Masalah yang Sering Terjadi Setelah Migrasi
Meskipun proses pemindahan sudah dilakukan dengan benar, beberapa masalah masih bisa muncul setelah website dijalankan pada server baru.
Website menampilkan error 500.
Periksa log error web server dan aplikasi. Penyebabnya dapat berupa ketidakcocokan versi PHP, kesalahan konfigurasi, izin file, atau masalah pada plugin.
Website tidak bisa terhubung ke database.
Pastikan konfigurasi koneksi database sudah diperbarui dan pengguna memiliki hak akses yang diperlukan. Periksa juga apakah layanan database sedang berjalan.
Gambar tidak muncul.
Periksa apakah folder unggahan sudah dipindahkan, apakah URL gambar masih mengarah ke lokasi lama, dan apakah izin akses file sudah benar.
Halaman artikel menghasilkan error 404.
Periksa aturan permalink, konfigurasi rewrite web server, dan pengaturan URL aplikasi.
Website masih menampilkan versi lama.
Periksa hasil resolusi DNS, cache browser, cache aplikasi, serta cache CDN jika digunakan. Perubahan DNS tidak selalu langsung terlihat pada semua jaringan.
Website lambat atau tidak stabil.
Periksa penggunaan CPU, RAM, kapasitas disk, versi PHP, konfigurasi database, serta log aplikasi. Server baru mungkin memiliki spesifikasi dan konfigurasi yang berbeda dari hosting lama.
Saat menghadapi error, catat pesan yang muncul dan periksa log terkait. Cara ini lebih efektif daripada mengubah banyak pengaturan sekaligus tanpa mengetahui penyebab masalah.
15. Checklist Setelah Migrasi cPanel ke aaPanel
Sebelum menganggap migrasi selesai, gunakan daftar pemeriksaan berikut.
- File website sudah dipindahkan secara lengkap.
- Database berhasil diimpor ke server baru.
- Konfigurasi koneksi database sudah diperbarui.
- Halaman utama dan halaman internal dapat dibuka.
- Gambar, CSS, JavaScript, dan file media berfungsi.
- Login administrator dapat digunakan.
- Formulir dan fungsi utama aplikasi sudah diuji.
- Versi PHP dan ekstensi yang dibutuhkan tersedia.
- DNS domain dan subdomain sudah diperiksa.
- SSL dan akses HTTPS berfungsi.
- Email, cron job, dan layanan tambahan sudah diperiksa.
- Backup file dan database tersedia di lokasi yang aman.
- Log server tidak menunjukkan error kritis yang belum ditangani.
Setelah semua pemeriksaan selesai, pantau website selama beberapa waktu. Periksa apakah pengunjung dapat mengakses website secara normal, apakah ada laporan error, dan apakah data baru tersimpan dengan benar.
Jangan langsung menghapus data pada server lama. Simpan cadangan sampai Anda yakin bahwa seluruh fungsi website telah berjalan dengan stabil di server baru.
Kesimpulan
Migrasi cPanel ke aaPanel secara manual dapat dilakukan dengan memindahkan file website dan database, membuat konfigurasi website pada server baru, kemudian menguji seluruh fungsi sebelum mengubah DNS.
Urutan yang paling aman adalah membuat backup, mengekspor database, menyiapkan website dan database di aaPanel, mengimpor data, menyesuaikan konfigurasi aplikasi, menguji website, lalu mengarahkan DNS ke server baru.
Bagi pemula, proses ini mungkin membutuhkan waktu karena setiap tahap harus diperiksa dengan teliti. Namun, dengan mengikuti langkah-langkah secara berurutan, risiko kehilangan data dan gangguan website dapat dikurangi.
Hal yang tidak kalah penting adalah memahami bahwa file website dan database bukan satu-satunya komponen hosting. SSL, email, DNS, cron job, subdomain, dan konfigurasi server juga perlu diperhatikan agar website dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Dengan persiapan yang baik dan pengujian menyeluruh, migrasi manual dapat menjadi metode yang praktis untuk memindahkan website dari cPanel ke aaPanel tanpa harus memindahkan seluruh lingkungan hosting lama secara langsung.